Prologue.
Di kota Gheena, Republik Inggrasia.
Pada hari kamis, pukul 10.22 pagi, di kota yang distopia, kabut di langit yang tebal dan jalanan yang becek. Di Bank Gheena Lassore, para buruh, pekerja negeri dan orang-orang yang berlalu lalang keluar masuk dari bank yang cukup ramai.
Di ruangan besar yang dipisahkan oleh dinding kaca tebal. Wanita berambut putih keperakkan dengan panjang mencapai pinggangnya yang ramping, mata biru jernih namun kantung matanya agak terlalu besar, wajahnya simetris dan kulitnya putih lembut. Usianya sekitar dua puluh dua tahun, dia mengenakan pakaian teller bank dengan name tag di dadanya "Jeanne Weels".
Dia duduk di balik dinding kaca tebal menghitung uang dan melayani nasabah.
Setelah nasabah terakhir pergi, Jeanne membanting tubuhnya dengan lembut pada sandaran kursi, mengambil topi kecilnya dan mengipaskannya dengan lembut.
"Aku sangat lelah..." pikirnya, lirih. Mengusap kantung matanya dengan lembut.
"Hei Jeanne, apa kamu tahu kasus hilangnya beberapa gadis muda di distrik Gheena dua?" rekan di sebelahnya tiba-tiba mengangkat topik, wanita itu berambut hitam panjang di ikat dan topi kecil bank Gheena Lassore di kepalanya.
Jeanne menoleh dengan pelan kepada rekan di sebelahnya yang nampak berusia tiga puluh tiga tahun. Dia berkata dalam hatinya. "Apa dia mencoba menakutiku?" dia mencoba tersenyum dan menjawab dengan santai. "Aku baru mendengar kasus itu beberapa hari lalu," kemudian dia menambahkan. "aku sedikit terkejut bahwa Mrs. Bone tertarik dengan kasus seperti itu."
Bone Mengangguk dan tersenyum. "Tidak, sebetulnya aku tidak tertarik hanya saja untuk mengingat bahwa orang biadab seperti itu pernah ada," alis Jeane sedikit terangkat, bingung namun sebelum dia bertanya, Bone melanjutkan. "Aku merasa iba kepada korban-korban itu... aku membaca di koran dan menonton beritanya di televisi, bahwa beberapa korban gadis yang hilang itu telah ditemukan, namun kondisi mereka yang mengenaskan," Bone menjelaskan dengan panjang lebar, ekspresinya sedikit berubah seolah mengingat hal buruk.
Jeanne yang jelas tidak terlalu tertarik, mengangguk dan berkata. "Semoga mereka tenang," jawab Jeanne dengan santai. Kemudian dia mengambil jus jeruk yang dingin di meja dan menyesapnya, menghilangkan dahaganya. "Yah kondisi mereka sangat mengenaskan, kedua telinga dan matanya menghilang, mereka mati karena kehabisan darah," kata Bone sambil membuka ponselnya.
Ketika mendengar itu jeanne yang sedang menyesap jus jeruknya hampir tersedak, terkejut. "Kedua telinga dan matanya menghilang?" punggungnya terasa dingin setelah mendengar perkataan Bone.
"Sungguh orang biadab dan aneh..." Jeanne mengomentari, dia hanya tahu kasus luarnya saja, namun setelah mendengar perkataan Bone Jeanne menjadi cukup untuk memikirkan pembunuh itu dan berhati hati.
Pintu bank terbuka beberapa orang masuk untuk mengambil atau meminjam uang dari bank. Segera Jeanne kembali ke posisinya dan melanjutkan pekerjaanya.
Jeanne memperhatikan nasabah dan melayaninya dengan profesional. Dia sesekali melirik dan mengamati beberapa orang yang masuk ke dalam bank, seperti pria berusia empat puluhan, Ibu rumah tangga yang meminjam uang dari bank, pekerja buruh dan beberapa orang lainya.
Tidak lama, seorang pria datang ke meja teller setelah mengantri. "Selamat siang, sir. Apa yang perlu saya bantu?" tanya Jeanne dengan nada profesional dan konsisten.
Seorang pria berusia dua puluh enam tahun, rambut pirangnya tersisir rapi ke arah belakang. Jas formal dan mewah, wajahnya terlihat lembut dan tampan.
"Aku ingin menarik uang dari buku tabunganku, " jawabnya santai, matanya tertuju kepada Jeanne menatapnya lembut dan sedikit tersenyum.
Jeanne mengangguk lalu berkata sambil memaksakan tersenyum. "Baik, bisa kami lihat untuk memverifikasinya, sir? serta identitas resmi kamu," tanya Jeanne dengan santai.
Pria itu mengangguk dan mengeluarkan rekening dan kartu identitasnya. Kemudian Jeanne memeriksanya dan memverifikasinya beberapa kali.
"Apa kamu sudah lama bekerja disini?" tanya pria itu, memulai pembicaraan. Jeanne sedikit terkejut, dia terlihat canggung karena dia jarang berinteraksi dengan pria. Jeanne mencoba menyembunyikan ekspresinya dan menjawab. "Aku baru bekerja disini selama tiga bulan," jawabnya dengan nada yang sama seperti sebelumnya.
"Rambutmu indah," ucapnya tiba-tiba, melirik Jeanne.
Jeanne menghela napas pelan, dan tersenyum. "Terima kasih," jawabnya tenang, meskipun hatinya cukup berdebar. Tanpa pikir panjang, Jeanne bertanya tentang nominal uang dan dengan cepat memberikannya kepada pria itu.
"Terima kasih." Jawab Pria berambut pirang itu dengan lembut, Jeanne menjawab dan mengangguk, kemudian melihat pria tersebut pergi.
Ketika pria berambut pirang itu berjalan menuju Pintu keluar, dari luar terlihat seseorang berpakaian serba hitam mengenakan jubah bertudung menutupi sebagian wajahnya dengan bayangan, ia berjalan dengan cepat melintasi depan Bank, ia berjalan dengan cukup tergesa-gesa. Kemudian tidak lama setelah Seseorang bertudung hitam tak terlihat dua orang berseragam polis melintas, seolah sedang mengejar seseorang bertudung hitam.
Pikiran Jeanne segera mengembara melihat apa yang dia lihat sebelumnya. "Apa yang terjadi di luar?" gumamnya dalam hati. "Kriminal? Sepertinya bukan... apakah.." pikiranya terhenti ketika mencapai apa yang dia pikirkan, ia segera merinding memikirkannya. "Si pembunuh aneh yang mengambil telinga dan kuping gadis muda?" tebaknya, meskipun ia ragu.
Kemudian Jeanne menghela napas. "Apa yang ku pikirkan... aku terlalu berlebihan," ucapnya dalam hati, kemudian dia fokus pada pekerjaanya.
...
Malam Pukul, 22.02 P.M
Waktu telah berlalu. Jeanne berdiri dari kursinya dan segera pergi menuju ruang ganti pakaian. Beberapa menit kemudian dia keluar menggunakan mantel coat berwarna krem, kemeja putih dan syal.
Dia tahu sekaligus antisipasi dari pengalaman hari hari sebelumnya. Di Inggrasia tepatnya Gheena meskipun pada siang hari bisa sangat panas dan membuat berkeringat, namun ketika malam hari itu keterbalikan dari siang, itu cukup dingin dan membuat menggigil tubuh seseorang.
"Selamat malam," setelah berpamitan dengan rekan-rekan kerjanya, Jeanne berjalan pergi menuju stasiun bus, ketika sampai di stasiun bus hanya ada beberapa orang yang menunggu.
Beberapa menit, Tak lama Bus berwarna putih, dan kuning meskipun terlihat cukup tua tapi itu masih layak untuk beroperasi. Jeanne segera naik saat pintu bus terbuka, Saat dia masuk dan duduk di kursinya.
Supir bus itu berkata. "Jalan menuju rute biasa, Rute telah terjadi pengeboman teroris." ungkapnya, menatap beberapa penumpang.
"Terjadi pengeboman di distrik tiga?" pikiran Jeanne bertanya-tanya. Dia tinggal di distrik empat dan sekarang dia berada di stasiun ibu kota Gheena begitu pun tempat dirinya bekerja.
"Sepertinya cukup parah, hingga transportasi yang melalui rute itu harus ditutup," pikir Jeanne dalam benaknya, lalu melanjutkan isi pikirannya. "Kalau begitu hanya bisa melewati distrik dua?" ketika distrik dua muncul di pikirannya, dia kembali memikirkan kasus hilangnya gadis muda, membuatnya sedikit takut.
namun segera dia menghilangkan pikiran seperti itu. "Aku terlalu memikirkannya," dengan lembut Jeanne mengangguk ketika supir bus bertanya kepada penumpang yang tidak keberatan mengambil jalan memutar.
Bus mulai berjalan, Jeanne menyandarkan tubuhnya dan menatap keluar kaca, lampu-lampu jalan yang menyala, gedung-gedung yang tinggi dan tempat demi tempat berganti di pandanganya.
"Memutar jalan sedikit tidak akan melelahkan, tapi cukup menguras waktu," ucapnya pelan. Di dalam bus, Jeanne terdiam hampir satu jam, sampai akhirnya dia tersenyum tipis dan mengambil ponsel dari saku mantelnya dan melihat pesan.
"Oh... Anna." Jeanne sedikit tersenyum. Anna adalah teman satu satunya jeanne dari universitasnya setelah lulus satu tahun yang lalu. Jeanne membaca pesan anna, lalu membalas pesan dari sahabatnya itu.
[[Anna: Jeanne apakah kamu akan pulang larut lagi?]] 20.19 P.M
[[Jeanne: Maaf aku lambat membalas, aku pulang larut dan sekarang jalan pulangku memutar karena rute bus di distrik tiga terjadi pengeboman.]] 22.56 P.M
Jeanne tersenyum, kemudian senyum itu sedikit surut, ketika dirinya melihat Kontak ponsel yang tersimpan. "Salah satu kontak yang selalu mengirimkan pesan hanyalah Anna. Sisanya adalah Mrs Bone dan Manager operasional dan beberapa rekan kerja." Jeanne menghela napas dan tersenyum pahit. "Menyedihkan." setelah mencela diri, Jeanne membuka pesan baru dari sahabatnya.
[[Anna: Aku sempat mendengar beritanya, yah semoga aja jalan itu cepat diperbaiki dan aku dengar tidak ada korban jiwa, syukurlah..]] 22.57 P.M
[[Anna: Ahh benar, aku hampir lupa. Saat hari kamu libur, Jeanne ayo kita pergi menonton film detektif terbaru!!]] 22.58 P.M
"Anna... kamu menulis dua pesan yang cukup panjang hanya dalam 1 menit," komentar Jeanne dalam hatinya, meskipun dirinya sudah terbiasa dengan kemampuan mengetik sahabatnya. "Film detektif?" seketika raut wajah Jeanne memudar seolah mengingat sesuatu, ketika jari jarinya hendak mengetik, pesan baru dari anna masuk.
[[Anna: Ahh maaf, aku tidak bermaksud mengingatkanmu... Aku sungguh minta maaf, jika kamu tidak ingin, kita bisa pergi ke berjalan-jalan ketaman bermain.]] 22.59 P.M
[[Jeanne: Tidak apa apa, aku menantikannya]] 22.59 P.M
[[Anna: Baiklah... Selamat malam dan hati-hati di jalan, ah iya jangan terlalu banyak minum kopi dan tetap ingat tujuanmu, yaitu pulang.]] 23.00 P.M
[[Jeanne: Tentu saja, terima kasih, Anna.,]] 23.00 P.M
Jeanne tersenyum lembut dan bergumam. "Dia ibuku?" mengejek perhatian anna, meski begitu Jeanne tetap menuruti perhatian sahabatnya tanpa keberatan.
Jeanne tinggal seorang diri, ibunya telah meninggal ketika dia awal masuk universitas karena penyakit, dan ayahnya adalah seorang mantan Detektif yang meninggal dalam misinya.
...
Saat sampai di stasiun Distrik dua, perbatasan.
Jeanne turun dari bus dan berjalan menuju stasiun kereta, distrik dua.
"Huh... pengeboman di distrik tiga memang sangat berpengaruh untuk orang-orang yang tinggal di distrik empat, mereka harus memutar dan menaiki transportasi dua kali." gerutu Jeanne. Dia berjalan dengan santai, rambut putih nya yang seperti salju tertiup angin dengan lembut.
Setelah berjalan hampir 5 menit, Jeanne membuka ponselnya di balik mantelnya.
"Pukul 23.40" pikirnya, sambil berjalan dengan tenang.
Ketika Jeanne berjalan dia melihat pertunjukan badut di seberang jalan di depannya, beberapa orang menonton, para pekerja yang pulang larut malam tersenyum dan tertawa ketika melihat pertunjukan konyol badut itu.
Jeanne berhenti tanpa sadar melihat pertunjukan. Badut itu memainkan Cascade juggling sambil mengendarai sepeda beroda satu, rambutnya yang mencolok dan make up badut yang terlihat rapi, tersenyum kepada semua orang.
Jeanne yang berdiri tak jauh dari sana, badut itu mengendarai sepeda beroda satunya ke arah Jeanne, kemudian dia mengambil sapu tangan yang entah dari mana, lalu membungkusnya ke dalam kepalan tangannya dan berkata.
"Apa kamu bisa menebak apa isinya yang akan muncul?" tanya badut itu. Suaranya cukup melengking.
Mata Jeanne menatap kepalan tangan badut. "Merpati?" jawabnya, badut itu tertawa, dan menepuk tinjunya tiga kali. Ketika kepalan tinjunya terbuka, suara kepakan sayap terdengar.
Merpati!
Jeanne terkejut sekaligus takjub, badut itu kemudian berkata. "Isinya bukan hanya burung merpati lho!!" kemudian ia menarik tali entah dari mana dan memasukan tali itu kedalam sapu tangan, lalu meniupnya.
Muncul sebuah bunga mawar putih yang cantik dan sederhana namun terlihat indah. Badut itu memberikanya kepada Jeanne.
Sesaat Jeanne menjadi canggung, dan perlahan mengambilnya. "Terima kasih..." jawab Jeanne dengan lembut, badut itu tersenyum dan perlahan mundur menggunakan sepeda beroda satunya.
Kemudian Jeanne mengingat perkataan anna sahabatnya. Jeanne mengambil ponsel dan dan memeriksa waktu di ponselnya.
"Pukul 23.48... aku harus segera pulang." dia bergegas pergi menuju stasiun kereta.
...
Di gang yang cukup besar, setelah berjalan cukup jauh dari tempat tadi, Jeanne berhenti dan menoleh kebelakang. "Seperti ada yang mengikutiku..." pikirnya, segera dia mempercepat langkahnya, "Mungkin hanya perasaan gelisah aku, saja..." dia menenangkan pikirannya.
"Selamat malam, nona." suara serak tiba-tiba terdengar sangat jelas di telinganya. Segera Jeanne tersentak dan menoleh.
Pria bertudung hitam, yang ditemui di luar pintu bank!
Mata Jeanne terbelalak. Insting dan nalurinya segera memerintahkannya menjauh dan berlari!
Pikiranya membara siapa orang itu. "Pembunuh Biadab!!" dia langsung menyimpulkannya tanpa ragu.
Jeanne berlari sekuat tenaga dan berbelok dari arah pertigaan jalan yang sepi, Bunga mawar putihnya terjatuh dari saku mantelnya. Jeanne tidak memikirkannya lebih lanjut, dia Terus berlari sesekali menoleh ke arah belakang.
Pembunuh itu masih mengejarnya, seringai di wajahnya terlihat dari balik tudungnya. Itu membuat Jeanne semakin yakin dan takut, sekaligus merinding.
Sesampainya di pertigaan jalan yang sepi, Jeanne Berbelok ke arah kanan, menuju toko bar yang masih buka.
BRAKK!
Tiba-tiba Jeanne menabrak seseorang, dia terjatuh ke tanah.
"Kamu baik baik...saja?" suara pria yang lembut dan tenang, Jeanne mengusap hidungnya yang terbentur, lalu mendongakkan kepalanya.
Pria berambut pirang disisir kebelakang, Jas formal, tidak lain adalah pria yang dia temui di bank ketika bekerja.
Jeanne perlahan mencoba menenangkan napasnya yang terengah-engah. "T-Tolong aku... Pembunuh Biadab mengejarku!" kata Jeanne ketakutan. Bibirnya bergetar dan terbata-bata.
mendengar perkataan Jeanne, segera dia membantu Jeanne bangun. "Baiklah... ayo, aku akan mengantarmu ke kantor polisi!" ekspresinya menjadi serius, dan mengajaknya, pria itu merangkul Jeanne, menuju mobilnya di parkiran bar.
Jeanne duduk di kursi depan, menenangkan pikirannya, dan mengatur nafasnya. Perlahan mobil berjalan keluar meninggalkan parkiran.
...
Di pertigaan jalan sebelumnya.
Badut yang memberikan Jeanne bunga mawar putih, berdiri di depan bunga mawar putih yang tergeletak di tanah. Tanpa mengatakan apa pun, badut itu pergi berjalan menuju pertigaan dan berbelok kanan, tempat toko bar. Di sana, di bar dan jalanan sepi, badut itu melihat mobil mewah berwarna putih telah pergi dari parkiran.
Badut itu memandang dengan heran.
Slashh!
Suara pisau yang dilemparkan dengan cepat menuju kearahnya, namun badut itu bereaksi dengan cepat menghindari rentetan pisau yang dilemparkan dengan atraksinya.
"Kau memburu gadis itu?" tanya badut itu, suaranya berbeda dari sebelumnya, kini suaranya terdengar serius.
Pembunuh biadab itu terkekeh dengan serak dan menghilang ke dalam kegelapan gang di seberang jalan.
...
Setelah pergi menjauh, Jeanne menenangkan pikirannya dan mengatur napas, Jeanne menoleh ke pria pirang yang menyelamatkannya.
"Terima kasih... sir," ungkap Jeanne pelan. Kini perasaannya sedikit tenang.
Pria itu mengangguk, dan tersenyum. "Sepertinya kamu sedang tidak beruntung.." katanya, dengan lembut dan tersenyum. Matanya tetap tertuju ke depan.
Jeanne mengangguk pelan, ketika tatapannya tertuju ke depan, mata Jeanne sedikit membeku. "Kenapa Kantor polisinya di lewati," pikirnya, ketika melihat mobil tetap melanju, melewati kantor polisi. Perlahan tengkuk Jeanne terasa dingin, dan saat hendak menoleh namun tiba tiba pandangannya menjadi kabur dan gelap.
...
Seketika Jeanne membuka matanya. "Apa yang terjadi... padaku?" kesadarannya perlahan pulih, dan membuka matanya. Ruangan yang sunyi dan kedap, dengan warna suram, berwarna merah yang cukup redup.
Jeanne hendak bangun, namun tubuhnya terikat di ranjang seperti rumah sakit, kedua tangan dan kakinya pun terikat, mulutnya di sumpal.
"Kamu sudah sadar?" suara serak yang sebelumnya dia dengar namun sekarang sedikit terganggu. Namun Jeanne tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
"Ahh, maaf-maaf..." pria itu tersenyum di balik jubah bertudungnya dan mengeluarkan cermin, memperlihatkan Jeanne yang terikat.
Mata Jeanne membelalak, Rambut seputih salju dan kini di nodai merah, Darah. Dari kedua sisi rambutnya berwarna merah darah yang tebal.
"Aku juga ingin menunjukan yang lain." pria bertudung itu membuka tudungnya yang menyembunyikan sebagian wajahnya.
"D-Dia..." sekali lagi Jeanne terkejut, air mata mulai mengalir, dan semakin deras. Hatinya seperti dihantam batu besar.
"Jangan memberontak, nanti kamu kehabisan darah..." suara pria itu seketika berubah menjadi lembut dan hangat, rambutnya pirang di sisir belakangan, ia memegang nampan yang di tengahnya terletak kedua telinga Jeanne.
Jeanne menggigit kain di mulutnya dan memberontak. Jeanne menangis tak terbayangkan. Pria pirang—Pembunuh biadab itu perlahan maju mendekati Jeanne.
"Aku akan memiliki mata indahmu..." pembunuh biadab itu menyeka air mata Jeanne. "Sakit... ini sangat menyakitkan... ayah... ibu..." pikirnya, air matanya tak kunjung berhenti. "Anna maafkan aku... maafkan aku karena tidak mendengar perkataanmu," ucapnya dalam hati, air mata mengalir, kedua telinganya telah hilang hanya darah yang perlahan mengering di rambut putih keperakannya.
Satu-satunya pikiran saat ini adalah Jeanne tak ingin mati. Namun dirinya juga tidak mau di siksa oleh Psikopat gila.
Wajahnya perlahan-lahan memucat, darah mengalir, Penglihatannya menjadi gelap dan hampa.
...
"Hei jeanne, apa kamu tahu kasus hilangnya beberapa gadis muda di distrik Gheena 2?" suara yang jelas dan tidak asing terdengar di telinga jeanne, sekarang lebih jelas.
Jeanne tertegun, segera dia meraba kedua telinganya. Dan mengambil ponsel di laci meja Teller dan melihat Jam di ponsel.
10.22 A.M












