Chapter 1 Pengulangan.
Tangan dan jari-jari tangan Jeanne bergetar hebat, rasa sakit dan ingat kematianya.
"T-Tidak... tidak mungkin..." Jeanne terjatuh dari kursinya, matanya membelalak hatinya menyuruhnya untuk berteriak namun pikiranya seperti mati rasa, membuat bibirnya terasa berat.
"Jeanne ada apa?" Bone sedikit terkejut lalu bangun dari kursinya dengan cepat dan menolong Jeanne dan membantu Jeanne bangun.
"Apa yang sedang terjadi sebenarnya... a-aku bangkit kembali? atau mimpi—TIDAK! perasaan dan rasa sakit ini begitu nyata!" pikirannya terus mencari jawaban namun semakin memikirkannya semakin membuat kepalanya berdenyut.
Sesaat Jeanne mengambil nafas dan mencoba memenangkan dirinya di bantu Bone. Setelah sedikit tenang Jeanne di beri segelas air putih, dia kemudian meneguknya.
"Apa yang terjadi Jeanne?" tanya Bone, ekspresinya khawatir. Jeanne mengamati sekeliling rekan-rekan kerjanya meliriknya sesaat namun segera kembali pada pekerjaan mereka masing-masing.
Jeanne mencoba tersenyum. "M-Maaf... aku hanya kelelahan... maaf membuatmu khawatir Mrs Bone," Jeanne segera bangkit dan duduk di kursinya.
Bone menghela nafas."Jangan terlalu memaksakan diri," Bone kembali pada tugasnya.
Jeanne mengangguk pelan, dia melihat sekeliling di bagian ruangan antre bank. "Itu bukan mimpi... aku bangkit kembali. Itu tidak masuk akal, tapi apa yang terjadi... apa itu semacam kekuatan?" pikiran Jeanne terus menelusuri berbagai jawaban, sesekali dia mengamati nasabah yang dia lihat sebelumnya. Itu membuatnya semakin bingung bahwa dia bangkit kembali atau mungkin hanya kelelahan.
Kemudian Jeanne mengambil Ponsel Lipatnya dan memeriksa jam. "Pukul 10.23..." jari-jarinya masih bergetar pelan.
"Perasaan yang sama, suasana yang sama... ini. Aku telah kembali bangkit di titik awal?" Jeanne menenangkan napasnya yang tidak teratur. "Jika itu mimpi tapi rasa sakitnya begitu nyata, namun kalau ini nyata... rasanya tidak masuk akal..." pikiran itu terus memenuhi isi kepalanya.
"Mungkin ini kekuatan atau keajaiban? meskipun tak masuk akal aku bisa mengklaim bahwa aku bangkit kembali ke titik awal," Jeanne mengetuk meja dengan pelan menggunakan jari-jarinya.
Setelah pertimbangan dan klaim yang cukup yakin. Jeanne melanjutkan pekerjaanya walaupun sesekali dirinya tidak fokus, rasa sakit di telinga dan kepalanya masih menghatuinya.
Deg-Deg
Jantung Jeanne berdetak kencang, dia hampir bangun dari kursinya. Matanya melihat ke depan pintu masuk, seorang Pria, tidak lain adalah pria yang membunuh Jeanne sebelumnya.
Tubuh Jeanne sedikit gemeteran, dia mencoba menenangkan dirinya. "Dia!" Jeanne menggigit bibirnya. Marah, takut dan bingung bercampur aduk, serta rasa mual.
"Apa yang harus aku lakukan..." lirihnya dalam hati, Jeanne menundukkan kepalanya sedikit enggan menjalin kontak mata dengan pembunuh tersebut di kursi antrean. "Melapor polisi? tidak... tidak ada bukti yang kuat... kepalaku sakit..." keluh Jeanne sambil mengelus pelipisnya, mencoba mengingat kejadian malam itu saat dia mati.
"Ketika aku di kejar oleh pembunuh bertudung dan bertemu dengan pria itu disatu waktu yang tidak jauh berbeda." Jeanne menggosok pelipisnya, dan menambahkan."kemungkinan, mereka dua orang yang bersekongkol, pria bertudung bertugas sebagai serigala yang mengejar domba dan pria itu bertugas sebagai pengembala sekaligus pemburu, pengembala berwajah dua!" Jeanne seketika menyimpulkan dan membuat hipotesis yang dalam.
"Pria bertudung itu adalah pembunuh yang hanya ingin membunuh, sementara pria itu hanya menginginkan fetish gilanya!" Jeanne mengangguk pelan sembari melayani nasabah. Kedua tangannya masih sedikit gemeteran, sesekali dia kehilangan fokus.
"Kemungkinan pria itu adalah dokter! saat itu aku mencium bau Alkohol dan Fenolik, pisau bedah yang tergantung serta ranjang rumah sakit," Jeanne semakin yakin dengan hipotesisnya.
Setelah beberapa antrean nasabah, giliran pria pembunuh itu, dia berjalan mendekat. Jantung Jeanne semakin berdetak kencang dan gugup. "Selamat siang, sir. Apa yang perlu kami bantu?" tanya Jeanne dengan nada profesional, kakinya sedikit gemetar di balik bawah meja teller.
"Aku ingin menarik uang dari buku tabunganku," nada bicara pria berambut pirang sekaligus pembunuh Jeanne itu masih sama. "Sekarang aku yakin! aku bisa bangkit kembali dari kematian tapi waktu mengulang... dan mati rasanya sangat sakit..." gumam Jeanne setelah yakin dengan kesimpulanya.
Setelah mengulangi beberapa kata dari kematian sebelumnya, ekspresi Jeanne semakin gugup. "Ada apa miss?" tanya pria berambut pirang tersebut, menyadari sikap gugup Jeanne.
"Ah..." Jeanne terkejut. "Tidak tidak..." jawabnya pelan dan sedikit tergesa-gesa. "Aku terlalu tegang," dia mencoba mengatur napasnya.
Pria itu tersenyum. Dan berkata. "Apa kamu sudah lama bekerja disini?" tanya pria pembunuh. Lalu dia melanjutkan. "Namaku Karl Ryker," Karl memperkenalkan dirinya. Kemudian dia melirik name Tag Jeanne.
"Aku tidak ingin tahu!" Jeanne menjawab dengan sinis dalam hatinya. Sebelum Jeanne menjawab, Karl menambahkan. "Namamu Jeanne Weels? nama yang indah.." Pujinya.
"T-terima kasih.." Jeanne sedikit menundukkan kepalanya. lalu bergumam dalam hati. "Jangan sebut namaku dengan mulutmu, pembunuh. Aku mati karenamu!" Jeanne mencerca Karl. Kemudian dia tersenyum. "Y-Ya... saya baru bekerja di sini tiga bulan," jawab Jeanne, pelan.
Lalu karl memuji rambut Jeanne seperti yang di lakukannya di waktu sebelum kematian Jeanne, Jeanne menjawab dengan jawaban serupa.
"Benar, aku harus memastikanya," sebuah ide muncul di benak Jeanne. Bibir jeanne seakan berat untuk terbuka, setelah pertimbangan dan memberanikan diri dia bertanya." Mr Ryker... apa anda seorang Dokter?" Karl tersenyum. "Hebat... bagaimana kamu mengetahuinya?" Puji Karl.
"Karena kau sendiri yang menunjukanya," Jeanne tidak lupa untuk menggerutu di benaknya, dia tersenyum. "Di kartu identitas anda," jawab Jeanne menggunakan ekspresi heran. "di waktu sebelumnya aku tidak memperhatikan detail kecil seperti ini," ujar Jeanne dalam hatinya.
Karl berdehem dan mengangguk dan mencoba tersenyum. Setelah berterima kasih dan selesai mengambil uang karl pergi. Dan melihat plot serupa dimana pembunuh bertudung kedua lewat.
Jeanne menghela nafas lega. "buktinya sudah cukup kuat, Jika mereka orang yang sama, waktunya tidak masuk akal. Jika berbeda… maka ada kemungkinan mereka bekerja bersama," katanya dalam pikirannya. Jeanne lalu melanjutkan pekerjaanya, dia berniat menganalisis lebih lanjut ketika jam istirahat.
...
Jam istirahat, pukul satu siang.
Jeanne duduk di tempat para pegawai istirahat, dia memakan sandwich sambil berpikir. "Kebenaran sudah aku ketahui namun, bagaimana aku harus membuktikanya? jika aku tidak perlu ikut campur, aku hanya perlu pulang cepat—tidak... maka akan ada gadis lain yang mati jika aku egois..." pikiran Jeanne masih memikirkan berbagai kemungkinan dan hipotesisnya. Dia menggigit sandwichnya jari-jarinya mengetuk meja.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Jeanne?" tanya Mira rekan kerja duduk di sebelahnya.
Jeanne terkejut dan hampir tersedak.
Dia menggelengkan kepalanya, pelan, dan menjawab. "Tidak... aku hanya memikirkan film terbaru tentang detektf" Jeanne berbohong, dan mencoba menyembunyikan ekspresinya.
Mira di sebelahnya menyenggol kacamatanya. "Itu... aku tahu, aku tidak menyangka kamu sedang memikirkan itu, biasanya jika aku membahas tentang series film itu kamu akan mengalihkan topik." Komentar mira.
Jeanne tersenyum masam dan menggaruk pipinya dengan lembut. "Yah... i-itu film yang bagus ternyata, aku meremehkanya," Jeanne membuat alasan.
Mira menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke kursi Jeanne, matanya berbinar. Dia menyenggol kacamatanya dan berkata."Benar!! aku sudah menonton series itu hampir dua belas kali di bulan ini, karakter utamanya bisa membuatku jatuh hati, plot cerita yang dibawakan juga membuatku terkagum-kagum, Antagonisnya yang kejam dan penuh rencana berhasil membuat protagonis kebingungan, padahal sang protagonis detektif hebat" Mira menjelaskan dengan bersemangat.
Jeanne hanya bisa tersenyum masam sambil memakan sandwich dan mendengarkan rekan kerjanya. "perutku sedikit sakit... maaf Mira aku harus ke toilet sebentar" Jeanne tersenyum sambil memegang perutnya.
Mira mengangguk dengan semangat hendak melanjutkan ceritanya ketika Jeanne kembali. Dia segera bangun dari kursinya.
"Maaf Mira aku berbohong..aku tidak menonton seriesnya, lagi pula aku tidak bisa berbohong pada maniak film," Jeanne berjalan menuju toilet wanita.
Dia duduk di kloset dan mulai mempertimbangkan apa yang akan di lakukanya. Jeanne menopang dagunya menggunakan tangan sambil berpikir. "Ryker pembunuh itu menargetkanku dari awal bertemu... namun dia bersekongkol dengan pembunuh lain, jika aku tidak ikut campur aku akan tetap mati, karena pria itu gila... dia akan mengikutiku diam-diam dan mencongkel mataku saat sedang tertidur—tidak... apa yang kamu pikirkan Jeanne!!" Dia menepuk kedua pipinya.
"Apa aku harus menulis surat dan mengirimkan ke kantor polisi secara anonim bahwa pukul 23.48 Malam Pembunuh berantai itu akan muncul..apa mereka akan percaya dan berpikir itu hanya lelucon, tidak... tidak ada salahnya mencoba!" Jeanne segera bangkit dan keluar dari kamar mandi, lalu mengambil kertas, pulpen, kertas dan amplop dari lokernya kemudian kembali ke tempat istirahat.
Dia mulai menulis, tangannya sedikit gugup sambil mendengarkan Mira melanjutkan ke kagumanya pada film dan series Detektif. Sesekali dia melirik mira yang fokus bercerita.
"Dia sangat fokus," Jeanne tersenyum.
"Pembunuh Biadab itu akan muncul di distrik 2 pada Pukul 23.48 Malam," Jeanne melipat surat itu lalu memasukanya kedalam amplop.
"Aku lupa harus mengirim surat kepada Saudara jauhku, tunggu sebentar Mira," Jeanne bangkit dari kursinya, Mira mengangguk tanpa bertanya atau curiga sedikit pun.
"Untung saja kantor pos hanya bersebelahan dengan bank, jadi tidak akan terlalu mencurigakan..." gumamnya pelan sambil berjalan menuju pintu keluar.
...
Dia berjalan keluar dari bank, dia melirik langit yang masih penuh asap polusi industri, Jeanne menuju kantor pos terdengar suara lonceng ketika Jeanne mendorong pintu. "Aku baru sadar ada lonceng dipintunya," ujarnya, pelan. lalu berjalan menuju kotak pos, lalu memasukan suratnya dan memberikan uang untuk biaya mengirimkan pesan kilat.
Setelah itu dia berjalan pergi meninggalkan kantor pos, dan kembali ke Bank dan berjalan dengan santai memasuki ruang istirahat pegawai dan duduk di kursinya.
"Sudah?" tanya Mira, sambil memasukan sisa roti kemulutnya. Jeanne mengangguk, lalu memulai topik dan berkata. "Mira menurutmu bagaimana jika protagonis di film detektif itu ada di dunia nyata dan dia menyelidiki kasus pembunuh berantai di distrik dua," tanya Jeanne, dia mengambil kopi hitamnya lalu meneguknya.
Mira berpikir sesaat setelah mendengar pertanyaan Jeanne. "Jika dia ada didunia nyata mungkin dia akan menyelidikinya, dan bisa menemukanya hanya dalam satu malam," jawab Mira.
Jeanne mengangkat alisnya, bingung."Bagaimana?" Jeanne melirik Mira dengan penasaran.
"Hehe...aku tidak tahu pasti, tapi aku yakin dia pasti akan mengungkap pembunuh itu," jawab Mira dengan bangga.
Jeanne menghela napas, dia tahu bahwa jawabanya akan seperti itu. Menyadari ekspresi Jeanne, Mira merasa sedikit malu dan menutup wajahnya dengan topi Teller.
"Tapi itu tidak sepenuhnya salah, menurutku detektif itu akan membuat umpan, dengan cara meminta gadis lain menjadi umpannya" Jeanne menjelaskannya dengan tenang, sambil membuka koran.
"Bukankah itu terlalu bahaya?" Mira bertanya dengan heran.
Jeanne menurunkan sedikit korannya, membuat senyumnya terpantung di lensa kacamata Mira. "Betul, tapi apakah pembunuh yang hanya mengincar gadis akan tertarik dengan pria? tentu saja tidak, menggunakan umpan adalah satu-satunya cara yang efektif. Pembunuh itu tidak akan keluar jika mangsanya sedikit lebih kuat darinya, yang dia inginkan adalah gadis lemah yang tidak bisa melawan." jawab Jeanne, dia melirik Mira yang sedang berfikir.
"Tapi memangnya akan ada yang mau menjadi umpan?" Mira sekali lagi bertanya, ekspresinya menjadi tegang dan serius.
Jeanne hanya tersenyum."Umpanya adalah aku... aku akan mencoba jika aku bisa hidup kembali dan mengulang dari titik awal meskipun ini ekstrem dan berbahaya aku sudah bertekad, tapi jika itu gagal. Aku hanya bisa bergantung kepada respon kepolisian yang menerima surat itu." Jeanne menegaskan dalam hatinya, dia membalik koran, lalu menunjukan sesuatu di koran kepada Mira.
"Coba kamu pikirkan, di berita koran hanya gadis muda yang menghilang dan di temukan tewas dengan keadaan mengenaskan. Pembunuh itu hanya membunuh gadis muda, tidak ada korban pria," Jeanne meneguk kopinya, ekspresi Mira menjadi serius dan mengangguk, lalu Jeanne melanjutkan, "Jadi satu-satunya jalan adalah umpan, lalu siapa yang ingin menjadi umpan? jawabannya adalah rekan detektif itu. Dia adalah wanita, dia jarang muncul di berita publik dan hanya protagonis dan rekan detektifnya yang tahu identitasnya." Jeanne menjelaskan dengan tenang, sambil melipat koran ditangannya.
Mata Mira berbinar dan tidak percaya dengan jawaban Jeanne. "Kamu betul, tapi kamu bilang jika detektif itu ada di dunia nyata kenapa rekanya juga ikut kedunia nyata?" Tanya Mira heran. Jari jarinya menyentuh dagu.
Jeanne terkekeh. "Ya, itu karena "Jika" kalau aku menggunakan "Hanya" maka cuman detektif itu saja yang nyata, tidak dengan rekannya." jawab Jeanne dengan tenang, dan memakan sandwich terakhirnya. Lalu dia menambahkan dalam hati. "Untung saja anna pernah bercerita jika detektif itu mempunyai rekan... kalau tidak, aku tidak bisa membuat perumpamaan seperti itu." Jeanne menutup kotak makannya.
Dan melanjutkan. "Sama sepertiku, aku tidak di kenali oleh pembunuh itu, ya aku dimata dia hanya pegawai bank biasa, tapi aku mengetahuinya karena aku umpan yang hidup kembali." gumamnya, saat memikirkan itu, Jeanne sedikit berkeringat dingin.
...
Pukul. 22:02 malam.
Setelah bekerja seharian, Jeanne berganti pakaian seperti malam sebelum pengulangan, dia berpamitan kepada Mira dan rekan-rekan kerjanya.
Ketika berjalan menuju stasiun bus, langkahnya terhenti. "aku melupakan sesuatu... saat itu Karl Ryker membuka tudungnya, suaranya menjadi berbeda..." Jeanne menyilangkan tanganya, jari-jarinya menyentuh dagu sambil berpikir. "suara pria bertudung itu sedikit serak, sementara Karl Ryker tidak, untuk apa Karl Ryker melakukan seperti itu? dia berpura-pura menjadi pembunuh bertudung itu di akhir hidupku, lalu menunjukan identitas aslinya kepadaku? atau mungkin korban-korban sebelummya diperlakukan seperti itu?" pikir Jeanne, dia melanjutkan langkahnya sambil berpikir.
"Apakah itu aneh? tidak... psikopat gila seperti Karl Ryker akan melakukan itu kesemua korbanya dia menikmati ketekejutan korbanya dan ketakut..." punggung Jeanne menjadi terasa dingin dan merinding ketika memikirkan itu. Lalu dia melanjutkan."Disaat itu aku tidak melihat pembunuh kedua, hanya ada Ryker...apa mereka rekan yang tidak akrab?" Jeanne membuat tebakan kasar.
Sesampainya di stasiun dan menunggu bus datang, Jeanne melihat sekeliling. "Ini hampir sama seperti sebelumnya." katanya, pelan. Dia melirik wanita tua, kedua pelajar laki-laki dan pria berumur kiasaran tiga puluh dua.
Berapa menit kemudian bus datang, Jeanne memasuki bus, lalu supir bus memberikan informasi yang sama, Jeanne duduk di kursi yang sama, mengamati bus yang mulai berjalan.
Setelah hampir setengah jam, dia mengambil ponselnya di saku mantel, dan melihat pesan Anna, tanpa sadar Jeanne meneteskan air mata."Aku pikir aku tidak akan bisa melihat pesan ini lagi..." Jeanne mengusap air matanya dia mencondongkan duduknya ke depan dan menunduk sambil menangis dan membalas pesan sahabatnya.
Air matanya menetes di layar ponsel lipatnya. Jari-jarinya mulai menekan Keyboard.
[[Anna: Jeanne apakah kamu akan pulang larut lagi?]] 20.19 P.M
[[Jeanne: Iya..hari ini cukup berat..maaf aku lambat membalas pesanmu..]] 22.56 P.M
[[Anna: Ada apa Jeanne? tumben sekali aku melihatmu mengeluh? apa terjadi sesuatu??]] 22.58 P.M, tanya Anna di pesan sambil mengirim stiker kucing dengan tanda tanya.
[[Jeanne: Tidak apa-apa... aku hanya sedikit kelelahan,]] 22.59 P.M
Jeanne mengirimkan pesan seperti sebelumnya, beberapa menit berlalu hingga bus berhenti di perbatasan stasiun distrik dua.
Jeanne keluar dari bus, dia berdiam diri sesaat, mengamati jalanan yang cukup sepi. Perlahan Jeanne menarik nafas dan menghembuskanya.
"Aku harus melakukanya, i-iyakan?" tanya Jeanne, lirih, pada dirnya sendiri, tanganya gemetar sambil memejamkan matanya, kemudian Jeanne perlahan melangkah berjalan.












