Chapter 2 Umpan yang melawan
Mata Jeanne terus mengamati sekeliling. "Situasinya masih sama," ucapnya pelan, langkahnya sedikit tegang, sesekali dia mengecek ponselnya di saku.
Jeanne terhenti, mata biru indahnya perlahan redup menatap badut yang sedang menunjukkan atraksi. "Tidak ada perbedaan yang cukup signifikan sejak awal... ini sama seperti di waktu sebelumnya... apa ini gagal dan aku akan mati, lalu kembali ke titik awal," ekspresinya menjadi berat, tanpa sadar dia berjalan dan menonton pertunjukkan badut.
Badut itu memainkan Cascade juggling sambil mengendarai sepeda beroda satu, badut itu sangat terampil, penonton yang kebanyakan buruh pabrik yang bekerja hingga larut malam, mereka minum-minum di pinggir jalan sambil tertawa melihat aksi sulap badut.
Jeanne tak jauh dari sana mengamati, tangannya sedikit bergetar, matanya berkaca-kaca, tanpa dia sadari.
Badut dengan Wig warna warni mendekat ke arah Jeanne sambil mengendarai sepeda roda satunya.
Badut itu mengambil sapu tangan, dan membungkusnya. "Apa kamu bisa menebak apa isinya yang akan muncul?" tanya badut itu.
Mendengar pertanyaan yang sama, hati Jeanne semakin berat. "Tidak ada perubahan juga..." lirihnya, Jeanne terdiam beberapa saat, sambil menahan matanya yang berkaca-kaca.
"Merpati..." jawab Jeanne pelan, pasrah dan mencoba menyembunyikan ekspresinya.
Badut itu tersenyum. Menepuk kepalan tangannya dan lalu perlahan membukanya.
Kepakan sayap dan bulu yang berwarna putih jatuh dari udara.
Merpati.
Jeanne kini tidak terkejut, dia hanya melihat merpati itu terbang ke langit dengan tatapan berat.
"Isinya bukan hanya merpati lho" kata si badut.
"Kata yang sama lagi..." pikir Jeanne, pikirannya seolah menjadi kosong dan terasa berat.
Badut itu mengeluarkan bunga mawar putih untuk kedua kalinya bagi Jeanne. Dia menerimanya dengan perasaan berat sambil mencoba tersenyum lalu memasukkan ke saku mantelnya.
Dan Jeanne hendak meninggalkan pertunjukkan, namun langkahnya terhenti, ketika si badut memanggilnya.
"Jangan menangis, wahai nona cantik... aku tidak tahu tentang harimu saat ini tapi jangan menyerah!!" kata badut itu sambil tersenyum konyol dan aneh, sambil menyeimbangkan tubuhnya di sepedah beroda satu.
BRAKK!
Dia terjatuh dari sepeda beroda satunya ketika Cascade Jugglingnya gagal, salah satu bola mengenai matanya, dia berguling-guling kesakitan dengan konyol.
Orang-orang yang melihat itu tertawa dan menyemangati badut itu.
Jeanne meliriknya sesaat, lalu melirik orang-orang yang tertawa.
"Tuan badut... Terima kasih" Jeanne sedikit tersenyum dan perlahan menarik napas dan menghembuskannya pelan.
"Tidak ada perubahan di awal tidak menjamin di akhir tidak ada perubahan juga!" kata Jeanne pelan, perlahan dia meninggalkan tempat itu, dan berjalan menuju stasiun kereta. Dia terus mengulangi kata itu di hati begitu juga pikirannya.
Jeanne memasukkan tangan kirinya ke saku sambil memegang ponsel, dia telah mengetik nomor kepolisian, jika terjadi sesuatu dia akan menekan dan meneleponya.
Jeanne menatap bulan dan bintang di langit yang gelap. Dia beranjak jalan ke tempat dia bertemu dengan pembunuh bertudung.
Ketika Jeanne berjalan dengan santai, anak laki-laki berkisar umur tiga belas tahun pakaiannya terlihat berantakkan, dia terlihat seperti anak jalanan, anak laki-laki berlarian dengan temannya menabrak Jeanne dan terjatuh.
"Kamu baik-baik saja?" Jeanne bertanya, pelan dan sedikit terkejut.
Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa." jawabnya, kemudian dia bangun dan pergi begitu saja.
...
Setelah berjalan cukup jauh. Dia melewati gedung-gedung tinggi dan jalanan yang tergolong sepi, sesekali kendaraan lewat.
Jantung Jeanne berdegup kencang ketika dirinya sampai di tempat di mana dia bertemu dengan pembunuh bertudung.
...
Melihat Jeanne telah pergi dan menghilang, badut itu melihat dua anak laki-laki yang menabrak Jeanne tadi sedang memegang dompet wanita berwarna cokelat di bibir gang yang gelap.
"Wanita itu membawa cukup banyak uang di dompetnya, sepertinya kita bisa makan, kak" kata adiknya, ketika melihat sang kakak menggeledah dompet milik Jeanne dan menghitungnya.
Sang kakak mengangguk, setuju. "Benar, ayo kita pergi makan," ajaknya. Melirik wajah adiknya.
"AYOOO!!" teriak badut itu tiba-tiba. Dia berjongkok sambil mengangkat tangannya dengan semangat, seolah dirinya bagian dari kedua saudara itu. Di dalam gang yang gelap melihat kedua bocah laki-laki itu terkejut dan jatuh
"S-Sejak kapan kamu di sini!" tanya sang kakak. "Padahal kami sedang di bibir gang, bagaimana dia masuk?" pikir sang kakak.
Badut itu terkekeh, dan berkata. "Rahasia," lalu melanjutkan. "Kalian mencuri dari mana?" tanya badut tersebut, tersenyum penasaran.
"K-Kami tidak... tidak mencurinya." si adik menjawab dengan gemetaran.
"Benarkah? jika kalian tidak mencurinya berarti aku bisa mencurinya dari kalian?" badut itu tersenyum, senyum yang membuat kedua saudara itu ketakutan dan waspada.
"Bercanda!" badut itu tertawa konyol, lalu dia berbalik membelakangi kedua saudara itu. "Hemmm..." gumamnya, dari nadanya dia seperti menemukan harta karun.
"Apa yang di lakukan pria aneh ini!" gerutu sang kakak.
"K-Kak... dompetnya" adiknya menunjuk ke arah tangan sang kakak yang menggenggam buku, bukan dompet milik Jeanne.
"D-Dompetnya jadi buku?" ucapnya tak percaya, dia melirik badut, pria aneh di depanya yang sedang berjongkok asik membelakangi mereka.
Keduanya mendekat dan melihat dompet itu ada di tangan badut aneh.
"Bagaimana bisa?" keduanya serempak berseru, terkejut.
Badut itu terkekeh, lalu berkata. "Kalian belum mengambil uangnya, kan?" tanya si badut.
Keduanya mengangguk."K-Kami belum mengambilnya." jawab mereka bersamaan.
"Baiklah..." badut itu bangkit sambil merentangkan kedua tangannya dan berjalan melewati kedua saudara itu. "Sampai jumpa," ucapnya, namun dia berhenti di depan bibir gang. "Mencuri itu tidak baik, lho" ujarnya. Dia sedikit menoleh sambil tersenyum.
Keduanya mengangguk dan melihat badut aneh itu pergi sambil melambaikan tangan dari belakang, setelah menghilang. si kakak meraba saku celananya seolah ada yang mengganjal.
"I-Ini..." dia melihat beberapa lembar uang kertas di sakunya.
...
Jeanne melihat ke arah saku tempat ponselnya siap menelepon kepolisian. Dia menelan ludah, ketakutan dan merinding bercampur aduk.
Suara jubah tertiup angin terdengar di telinga Jeanne.
Segera Jeanne membalikkan tubuh dan melihat ke arah sumber suara, di balik kegelapan muncul si pembunuh itu.
Kaki Jeanne seperti akan kehilangan keseimbangan, dia menggertakkan giginya dan berkata. "Jangan mendekat! aku telah menelepon polisi!" seru Jeanne mengancam, jari-jarinya telah menekan tombol telepon di ponselnya.
Suara serak di balik tudung terdengar. "Kenapa? kenapa aku harus menuruti perintahmu?" pembunuh itu tertawa.
Jeanne mundur inci demi inci, jari-jarinya bergetar.
Saat pembunuh itu hendak melangkah, Jeanne berteriak."JANGAN BERGERAK!" jantungnya berdetak kencang. Keringat mengalir di pelipisnya.
Pembunuh itu terkekeh, dan berkata. "Apa kau hanya mengulur waktu? aku tahu, kamu sudah menghubungi polisi," sahutnya, dia seketika berlari ke arah Jeanne seperti serigala yang akan menerkam domba, langkahnya yang tidak normal
Jeanne berteriak."TOLONG!!" dia berlari mundur dari tempatnya.
Namun pembunuh itu tidak menghentikan larinya, dia menarik pisau dari balik jubahnya.
"Manhole cover!" Jeanne melirik ke depan.
Saat berlari Jeanne terjatuh tepat di depan manhole cover, Dengan sekuat tenaga dia menarik manhole cover. Jari-jari tangannya lecet dan terluka akibat memaksakan batas tubuhnya.
Dengan adrenalin dan insting bertahan hidup, Jeanne kembali bangkit dan berlari beberapa langkah ke depan sambil memeluk manhole cover.
Pembunuh itu tersenyum dan melompat hendak menerkam Jeanne dari belakang, dan melemparkan pisaunya di udara
TANG!
Jeanne berbalik dan menangkis serangan tersebut dengan manhole cover sebagai perisai.
"Apa!" pembunuh itu sedikit terkejut, namun saat dia mendarat, salah satu kakinya masuk lubang saluran air.
"Sebelumnya saat aku terjatuh, aku membuka manhole cover di saluran air, untung saja ini tidak tertutup rapat, dan kondisi jalanan yang minim pencahayaan, membuat lubang itu tidak terlihat." pikir Jeanne dengan cepat, napasnya terengah-engah.
"Heh... rencana yang cerdik, tapi kamu tidak sepenuhnya menangkis seranganku, lihatlah pahamu" pembunuh itu tertawa, puas.
Jeanne melirik paha kaki kirinya, matanya membelalak, pisau dapur menancap di paha kirinya, seketika darah merembes dan menembus celananya.
Jeanne berteriak dan mengangkat manhole cover sekuat tenaga lalu memukul kepala si pembunuh itu menggunakan manhole cover sebelum si pembunuh mengangkat kakinya yang masuk kedalam saluran air bawah tanah.
KRAKK!
Jeanne berhasil mengenai tepat di kepala si pembunuh, dan pembunuh itu terhempas ke bawah dengan keras lalu membetur jalan beton serta manhole cover menimpa kepalanya.
Jeanne mundur perlahan, sempoyongan dan tak percaya, tangannya menjadi lemas, sakit. Sendi bahunya terasa akan lepas dan dirinya ambruk.
"A-Aku telah membunuh seseorang?" pikirnya menolak percaya, hatinya terasa berat dan sedih, marah bercampur aduk.
"Hei!" panggil suara yang memecahkan keheningan Jeanne yang terduduk di aspal melihat tubuh si pembunuh terkapar.
Jeanne menoleh dengan pelan, dan melihat badut tersebut sedang berlari ke arahnya. Namun Jeanne semakin terkejut ketika badut itu melewati kegelapan. Bibirnya bergetar ketika melihat sosok lain tiba.
Karl Ryker.
Pembunuh kedua itu muncul. Jeanne yang ingin berteriak, suaranya seperti tertahan.
Keduanya berjalan menghampiri Jeanne yang membatu di tempat.
"Hei Nona? ada apa?" si badut mendongkakkan tubuhnya dan melambaikan tangannya di depan wajah Jeanne. Badut itu melihat di belakang Jeanne terdapat tubuh yang terbaring tak bergerak.
"Apa yang sedang terjadi?" tanya badut itu heran. Mencoba mencerna situasi. "Kamu baik-baik saja?" tanya si badut.
Jeanne yang tubuhnya mematung, kini bergetar, tangan-tangannya perlahan terangkat bergerak dan menunjuk ke arah Karl yang berdiri di samping badut tersebut
Bibirnya bergetar, dan perlahan berkata."Dia pembunuh keduanya..." suara lirih, mata birunya yang indah perlahan membelalak, menatap Karl Ryker.
Badut itu menoleh dan mengamati Karl. "Tuan ini? kamu baik-baik saja nona? aku mendengar suara teriakanmu dan saat aku hendak kemari aku bertemu dengan tuan—tuan siapa namamu?" tanya Badut itu.
"Karl Ryker." jawab Karl, dia mengamati Jeanne. Lalu berkata. "Kamu sepertinya kelelahan pikiran dan mental, kamu membunuh seseorang?" Karl berakting seolah dia bukan pelaku dan bertindak sebagai penyelamat.
"Aku seorang dokter, ayo kita pergi ke rumah sakit dan tuan badut segera hubungi kepolisian." Karl berjongkok dan mengulurkan tangannya kepada Jeanne.
Jeanne seperti orang yang tersengat listrik, dia segera menjauhkan dirinya dengan cara menyeret tubuhnya, kakinya tidak berdaya untuk lari.
Badut itu berjalan menuju Jeanne."Apa maksudmu dengan pembunuh kedua, nona?" tanya badut itu, ekspresinya menjadi bingung dan heran.
Ketika dirinya berbalik dan melihat Karl mendekat, dia melanjutkan."Dia dari tadi mengatakan kamu pembun—" perkataan si badut terhenti, ketika pisau bedah menusuk tepat di dadanya. Darah seketika keluar dari mulutnya.
Mata badut itu membelalak, terkejut dan terhuyung mundur. "K-Kamu..." dia menunjuk Karl, dan mencabut pisau bedah di dadanya. Darah merembes dari kostum badutnya.
"Pisau bedah itu telah dilumuri racun, kamu akan mati dalam lima belas menit." ucap Karl tenang dan perlahan menyeringai.
Tubuh badut itu yang perlahan melemah dan jatuh tepat di hadapan Jeanne, darah mengalir keluar dari kostumnya.
Pikiran Jeanne menjadi kacau, hatinya seakan ditabrak dari arah depan dan belakang. Tubuhnya tidak berhenti gemetaran, kedua tangannya sedikit demi sedikit terangkat, menutup wajahnya yang putus asa serta ketakutan yang ekstrim.
"Aku suka ekspresi itu..." puji Karl dengan tenang. Dia perlahan mendekat, lalu mencekik dan mengangkat Jeanne.
Dia mendesah dan berkata."Sungguh... aku.. aku sungguh ingin memiliki matamu itu dan telingamu," Karl mengambil pisau bedah lain dari jasnya dan mengarahkan ke mata Jeanne. Dia mencium telinga Jeanne dan menjadi gila.
Jeanne yang sudah frustrasi dan mentalnya retak, hanya mematung, napasnya sesak karena dicekik oleh Karl.
"Aku tidak mau ini... kenapa takdirku seperti ini," lirih Jeanne, hatinya menangis namun air matanya tak mengalir.
Karl tertawa dan ketika dia mengangkat pisau bedahnya ke wajah Jeanne, hendak mencongkel salah satu matanya.
DORR!
"Lepaskan wanita itu dan jangan bergerak!" perintah polisi wanita, sementara rekannya, Polisi Pria membidik ke arah Karl untuk kedua kalinya.
Karl menoleh. "Polisi?" dia menarik Jeanne dan menggendongnya di pundak layaknya seekor buruan.
Saat Karl berlari melewati tubuh badut dan Pembunuh bertudung, namun langkahnya gagal dan terjatuh.
Karl bangkit dan bangkit kembali, berlari namun dirinya kembali jatuh, dia menoleh ke bawah. pupil matanya membesar tak percaya.
Kaki kiri di bagian bawah mata kakinya telah putus, potongan itu sangat rapi seolah dipotong oleh sesuatu yang tidak terlihat. Darah terus mengalir dari luka, hingga berceceran di aspal.
Karl menggeram, kini dia berfokus untuk melarikan diri. Kemudian dia melemparkan Jeanne ke aspal hingga membentur tong sampah dengan keras, membuat darah mengalir dari pelipisnya.
"Aku harus kabur, Detektif Khusus ada di sini!" gerutunya, dia menguatkan salah satu kakinya dan hendak melompat.
DORR!
Polisi yang telah menerima perintah menembak, mulai menembak. Tembakan itu mengenai Lengan kanan Karl.
Dia mendengus dan memusatkan kekuatannya di kaki kanan. Dia melompat dengan kuat dan tidak masuk akal, bekas lompatannya meninggalkan retakan di aspal.
Karl melompat hingga lima meter, mencoba kabur melalui atap gedung atau rumah-rumah warga sipil. Saat hampir sampai di atap gedung salah satu gedung tujuannya.
Dari atas sana seorang pria mengenakan mantel cokelat dan jas hitam dengan kemeja putih formal, dasi berwarna merahnya tertiup angin malam. Dia memiliki rambut biru gelap yang juga tertiup angin malam, tanpa ragu dia melompat kebawah. Arahnya bertabrakan dengan Karl.
Karl melihat seseorang melompat dari atas bangunan yang akan ditujunya.
"Tidak!" Karl terkejut setengah mati, namun dia terlambat untuk menghindar.
Pria berambut biru gelap menatap Karl dengan serius, dia dengan terjun sambil menyilangkan tangannya di dada. Dia berkata dengan tenang.
"Unlock: Massa 90 kg," ucapnya. Pada saat itu kaki kanan pria tersebut diselimut cahaya biru kemerahan.
Mata Karl membelalak saat telapak sepatu pantofel mengenai wajahnya dan mendorongnya jatuh ke bawah.
DUAR!!
Suara ledakkan seperti benda berat yang jatuh ke aspal. Asap mengepul dan perlahan menghilang, itu membuat kawah kecil.
Jeanne yang terbaring lemah di pinggir aspal, penglihatannya sedikit kabur, dia bisa mendengar samar-samar polisi wanita yang memberikan pertolongan pertama pada lukanya dan mengobatinya.
Setelah sedikit tenang dan perlahan Jeanne melirik ke arah mayat badut."S-Selamatkan pria itu dulu," ujar Jeanne pelan, napasnya masih terasa sesak. Sambil menunjuk tubuh si badut yang tergeletak lemah.
Polisi wanita itu mengangguk, dia menyandarkan Jeanne ke dinding bangunan. Saat polisi wanita itu hendak meninggalkan Jeanne, mendekat ke arah badut yang tertusuk.
"Tidak perlu, obati saja wanita itu," perintah pria berambut biru gelap tersebut. Dia mengambil segenggam pecahan batu dan mengenggamnya.
"80Kg" ucapnya, batu itu mulai bercahaya biru kemerahan, dia meletakkan batu tersebut di perut Karl yang telah kehilangan kesadarannya. Kemudian melirik polisi pria, mengisyaratkannya untuk mengamankan Karl. Polisi itu mengangguk, dan mendekat kemudian memborgol kedua tangan Karl Ryker.
Pria berambut biru gelap mulai berjalan mendekati badut, mata hitam keabu-abuannya menatap tubuh badut yang terkapar di aspal, dia mulai berbicara, nadanya tenang. "Mau sampai kapan kau berpura-pura mati, Eugene Vidocq?" tanyanya. Hening.
Dia mengambil bongkahan batu lain. Namun tiba-tiba Eugene bangkit. "Kamu mengganggu aktingku, Johan!" dia menghela napas, lalu melanjutkan "padahal Nona di sana mengkhawatirkan keadaanku.." dia menunjuk Jeanne.
Melihat itu, Jeanne dan polisi wanita itu menjadi terkejut dan bingung."B-Bagaimana bisa?..." suaranya yang lirih dan serak akibat cekikkan Karl masih terasa menyakitkan baginya.
"Ohh itu, aku menggunakan ini." Eugene membuka kostum badutnya dan memperlihatkan balon-balon yang pecah berwarna merah mirip dengan darah.
Perasaan Jeanne sedikit tenang, kesal dan marah bercampur aduk. Jeanne perlahan bangkit dan berkata." Izinkan... aku menamparmu," pinta Jeanne mencoba berdiri kemudian di bantu oleh polisi wanita di sampingnya.
Namun bukannya meminta maaf, Eugene berjalan mendekat dan berjongkok di hadapannya.
Sarung tangan putih yang berlumuran darah, menyentuh tangan Jeanne. Hangat. Nyata. Matanya yang berwarna merah dengan orange tipis menatap Jeanne dengan lembut.
Dengan nada lembut yang sama sekali tidak cocok dengan penampilan badutnya itu berkata,
"Menikahlah denganku, gadis cantik."
Keheningan jatuh seperti benda berat.
"...Apa?" Jeanne terpaku. Wajahnya kosong. Otaknya menolak memproses kalimat itu.
Badut itu tersenyum-kali ini senyum kecil, tidak dilebihkan.
"Aku serius. Kamu punya tangan yang dingin, tatapan orang yang baru mati, dan aura masalah seumur hidup. Kriteria sempurna." ujarnya, suaranya terdengar lembut layaknya seorang playboy.
Jeanne menarik tangannya dengan refleks. "Kamu gila," katanya pelan. Namun kesadaranya perlahan meredup, tubuhnya ambruk. Eugene Vidocq menahan Jeanne yang akan jatuh. Make up badutnya tersenyum tipis melirik Jeanne.
Pingsan.












