Chapter 3 Gema si Munafik
Jeanne berdiri di ruangan yang gelap seolah tak berujung.
Matanya tertuju pada kursi kayu tua yang di atasnya diterangi cahaya. Dia berjalan sambil mengamati sekeliling, perasaan yang campur aduk membuatnya merasa tidak nyaman.
Ketika sampai di dekat kursi kayu tua itu Jeanne melihat secarik kertas, pada kertas itu terdapat tulisan. Tulisan yang di buat oleh gadis kecil yang cukup bagus, dia mengambilnya dan mulai membacanya.
"Duduklah…" Jeanne melirik dengan heran, namun pikirannya membujuknya untuk mengikuti tulisan. Namun dia dapat merasakan déjà vu pada tulisan itu.
Jeanne perlahan duduk. Mata birunya mengamati suasana yang gelap dan sunyi.
BZZT.
Suara dan sinar lampu yang berkedip beberapa kali muncul tiga meter di depannya, dia menyipitkan matanya, meliriknya dengan serius.
Gadis berusia delapan tahun, rambutnya putih keperakan dan panjang, dia mengenakan bandana biru cyan dengan aksesoris pita kecil. Gadis itu memakai dress hitam sederhana dengan pita putih di bagian dada. Mata biru yang indah menatap Jeanne.
Gadis itu duduk di kursi kayu tua yang lain, berhadapan dengan Jeanne dari jarak tiga meter. Mata mereka saling bertemu dengan saat itu, seketika membuat Jeanne terkejut.
Gadis kecil itu tidak lain adalah Jeanne. Jeanne kecil tersenyum dan melambaikan tangan padanya.
Jeanne kecil perlahan membuka mulutnya dan berkata dengan tenang. "Kamu tidak melarikan diri seperti dulu," ucapnya, tersenyum lembut sambil mengayunkan kaki mungilnya.
"Seperti dulu?" Jeanne bertanya heran. Dia mengamati Jeanne kecil.
Jeanne kecil mengangguk. "Kenapa kamu bertanya?" lalu dia menambahkan. "Jadi kamu melupakannya... benar, saat itu kamu melarikan diri dari kenyataan," Jeanne kecil melompat dari kursinya. Dia cekikikan seolah mengejek.
"Aku tidak melarikan diri dari kenyataan!" Jeanne membantah dengan cepat, matanya menatap Jeanne kecil yang berjalan mendekat.
Jeanne kecil berhenti tepat dua meter di depannya. Dia berdiri diam, kepala menunduk seolah enggan menatap Jeanne di hadapannya. Rambutnya jatuh menutupi mata, memberi kesan rapuh. Kedua tangannya disembunyikan di belakang tubuh, sementara gaunnya tergerai pelan, bergerak mengikuti napasnya yang halus.
Dia tersenyum dan berkata. "Kamu benar-benar melupakannya," ruangan gelap itu seakan menyusut, membuat jarak Jeanne dan Jeanne kecil berdekatan.
Seketika Jeanne melihat pemandangan yang tidak asing, dia melihat dirinya yang kecil berada di ruangan kelas. Ia mengenakan beret hitam berhias pita merah marun di sisi kanan kepalanya. Mengenakan pakaian sekolah dasar hitam putih dan pita ungu.
Jeanne kecil duduk sendirian di kursinya, sambil membaca buku. Perlahan dia menoleh ke arah Jeanne yang mengamatinya. Lalu berkata."Aku kesepian dan sendirian selama ini... kenapa kamu memilih melarikan diri.," dan menambahkan. "Kamu munafik," kata itu menembus dadanya seperti jarum.
Jeanne menggelengkan kepalanya."Tidak..." jawabnya pelan.
suara itu terus menggema, Jeanne kecil berlari-lari mengelilinginya sambil tertawa dan tersenyum. Perlahan Jeanne kecil mulai bertambah bukan hanya satu, melainkan dua, lalu terus bertambah hingga memenuhi isi kepala Jeanne, dan mengulang-ulang di pikirannya.
Jeanne menutup telinganya dengan kedua tangan, kursi yang dia duduki seakan menghilang membuat tubuhnya ambruk, Jeanne perlahan meringkuk di ruangan yang sepenuhnya hitam pekat sambil menutup matanya.
"TIDAK!" teriak Jeanne, histeris.
...
Jeanne serentak terbangun sambil berteriak. Napasnya terengah-engah, perlahan Jeanne menarik napas dan menghembuskannya pelan, mencoba menenangkan diri.
Beberapa saat setelah sedikit tenang Jeanne memperhatikan jari-jarinya yang dibalut oleh perban, serta tangan kirinya yang dibalut gips. "Aku penuh dengan luka," Jeanne menghela napas sekali lagi.
"K-Kamu baik-baik saja?" suara yang lembut dan asing bertanya kepada Jeanne.
Jeanne menoleh ke arah sumber suara, seorang wanita berkacamata oval frame tipis berwarna emas, bersembunyi di balik tirai biru rumah sakit. Dia sedikit mengintip.
Dia memiliki mata hijau zamrud, rambut cokelat gelap, sedikit ikal dan dikepang besar ke samping kanan sampai dada, usianya sekitar awal dua puluhan. Dia memakai jas putih dokter, di dalamnya ada rompi hitam dengan kemeja putih, dan dasi ribbon berwarna hitam, dia memakai topi dokter berwarna putih dengan simbol palang merah di atasnya, serta sarung tangan berwarna putih. Memberikan kesan pintar dan dewasa.
"Aku di rumah sakit... benar, sebelumnya aku pingsan," Jeanne mengingat kejadian semalam, lalu melihat situasi. Rasa nyeri di kepala sesekali mengganggunya, dia menyentuh kepalanya yang masih diperban tipis.
"Aku masih hidup," ucap Jeanne, pelan dan sedikit lega. Melihat dirinya mengenakan piyama pasien, saat dia hendak bangun dari ranjangnya.
"Tunggu!" wanita itu keluar dari persembunyiannya dan menghentikan Jeanne yang hendak bangun.
"Ada apa?" tanya Jeanne, bingung.
Tanpa menjawab pertanyaan Jeanne, gadis itu menarik pelan selimut Jeanne dan menunjukkan kakinya yang dibalut gips.
Jeanne sedikit terkejut, namun itu membuatnya lega. Mengungkapkan bahwa luka ini nyata dan tidak ada pengulangan.
"Kamu siapa?" Jeanne bertanya, pelan. dia mengamati dokter wanita di hadapannya.
"Oh... namaku Selena Royle," jawab Selena, memperkenalkan dirinya, sambil tersenyum lembut.
Jeanne mengangguk. "Namaku Jeanne Weels," lanjut Jeanne, mencoba tersenyum.
"Miss Royle, terima kasih telah mengobatiku..." Jeanne merebahkan dirinya kembali ke ranjang, dan melihat ke atap ruangan.
Selena tersenyum."Tidak apa-apa... ini tugas kami sebagai Detektif Khusus divisi medis," jawab Selena, dia menarik kursi dan duduk di samping ranjang.
Sesaat langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka.
SREEK!
Tirai digeser, Johan berambut biru gelap melirik Jeanne yang telah siuman, serta pria berambut hitam berdiri di sisi kirinya, dan wanita berambut pirang keemasan berdiri di kanannya.
"Kamu sudah siuman, sebelum itu aku Leo Tolstoy direktur Detektif Khusus meminta maaf karena tidak sengaja melibatkanmu dalam pekerjaan kami," Leo Tolstoy memperkenalkan dirinya.
Dia memiliki rambut hitam yang disisir rapi ke belakang dengan jambang rambut memutih, Leo Tolstoy memiliki mata berwarna cokelat yang dalam dan berwibawa, usianya sekitar tiga puluh lima. Dia memakai kemeja putih dan jas hitam serta dasi abu-abu, dengan mantel hitam yang serasi, dia juga memakai sarung tangan berwarna hitam.
"T-Tidak apa-apa..." Jeanne menanggapi pelan, namun tatapannya masih tertuju pada langit-langit ruangan. Sebelum Leo berbicara, Jeanne melanjutkan. "Apakah pria berambut merah itu masih hidup?" tanya Jeanne, dan menambahkan. "Maksudku... dia baik-baik saja? atau sudah tiada?" tanya Jeanne sekali lagi, ekspresinya terlihat sedikit ketakutan, dia menyembunyikannya dengan selimut.
"Dia masih terbaring di ruangannya akibat luka tusukan, pisau bedah menembus balon hingga menusuknya sendiri, dia memang ceroboh!" Johan menjawab pertanyaan Jeanne dengan nada yang tenang tanpa kekhawatiran sedikit pun.
"Mungkin dia mati!" cetus gadis berambut pirang keemasan itu, sambil tersenyum mengejek. Kemudian dia melanjutkan. "Setelah kamu pingsan, Eugene bodoh itu terkena efek racun, dan berteriak minta tolong seperti orang gila dengan mulut berbusa," gadis berambut pirang menjelaskan sambil mengingat situasi yang dia anggap lucu, lalu dia menutup mulutnya dengan tangan, menyembunyikan tawanya.
"Begitu... semoga yang di atap hanya halusinasiku saja... bukan arwah badut aneh itu." Jeanne menutup matanya sambil menghela napas.
Leo dan yang lainnya bingung dengan ucapan Jeanne. Kemudian mereka mengangkat kepala, menatap langit-langit ruangan.
"Hai" sapa Eugene sambil tersenyum, dia mengenakan piyama pasien dan menempel di langit-langit ruangan layaknya laba-laba.
Johan mengelus dahinya kemudian mengangkat tangannya, lalu menargetkan kekuatan massanya kepada Eugene yang menempel di atap. Cahaya biru kemerahan mulai muncul di tubuh Eugene.
"Heh?" Eugene terkejut karena tubuhnya menjadi berat dan mulai terjatuh dari atap. Jeanne yang melihat itu matanya membelalak dan ingin menghindar namun tidak sempat.
CRAK!
Dengan cepat gadis berambut pirang mengeluarkan tongkat lipatnya, sebelum Eugene jatuh menimpa Jeanne, gadis berambut pirang keemasan itu mendorong Eugene di bagian perut dengan tongkatnya hingga terpental ke jendela
PRANG!
Eugene menabrak jendela hingga pecah dan terjatuh keluar.
Melihat Eugene jatuh Jeanne menjadi semakin terkejut dan melirik ke arah tiga orang, dan berkata. "Apa yang kalian lakukan, apa dia baik-baik saja?" tanya Jeanne, panik, sambil menoleh ke jendela yang pecah.
Leo Tolstoy memaksakan tersenyum masam dan menjawab."Tidak apa-apa... itu hal yang sering terjadi di sini."
Melihat Selena yang tersenyum seolah hal seperti itu sering terjadi. Kemudian Jeanne melirik Johan dan Gadis berambut pirang memasang ekspresi biasa saja, dia menghela napas lega."Ini lantai satu, kan?" tanya Jeanne memastikan.
"Ini lantai tiga," jawab Selena pelan.
"Mereka benar-benar terbiasa..." pikir Jeanne dalam benaknya. Mencoba tidak memikirkannya lebih jauh.
...
"Baik, biar mereka perkenalkan diri..." Leo menoleh ke arah Johan dan gadis berambut pirang keemasan.
"Johan Goethe," ucapnya santai."Aku—" perkataannya dipotong. "Aku Isabella Goodwin, dari keluarga bangsawan Goodwin, aku menjadi detektif karena itu menarik," Isabella memperkenalkan dirinya sambil mengangkat gaun berwarna biru tua dengan ukiran rumit berwarna putih.
Dia memiliki rambut pirang keemasan yang diikat ekor kuda lurus, dengan pony agak berantakan namun terlihat elegan. Isabella memiliki mata kuning keemasan, dia memakai topi bonet yang warnanya serasi dengan gaun, di topi bonet tersebut terdapat aksesoris pita besar biru tua di leher, kalung mutiara bertingkat, dan liontin batu biru yang memperkuat kesan aristokrat.
Leo tersenyum dan berkata. "Mereka anggota Detektif Khusus, termasuk Eugene Vidocq," Leo melirik Jeanne dengan sambil tersenyum.
"B-Baik..." Jeanne mengangguk, canggung.
Suara langkah kaki yang berlari terdengar dari lorong, dan pintu terbuka dengan keras. "Aku Eugene Vidocq, sang Detektif terhebat," ujar Eugene dengan suara bangga sambil membungkuk memperkenalkan diri, piyama pasiennya yang kotor dan rambut merah gelapnya berantakan.
"Kami akan memberikan kompensasi karena telah melibatkan warga sipil seperti kamu, Nona Weels," kata Leo, sambil tersenyum, dan mengatakan sesuatu. "Bagaimana keadaanmu? Nona Weels," Leo bertanya, matanya menyelidik.
"Eee... A-Aku sudah bisa bergerak," jawab Jeanne, pelan dan gugup.
"Baguslah. Kalau begitu, bisa ikut denganku?" matanya yang berwarna cokelat menatap Jeanne.
Jeanne mengangguk dan menjawab. "B-Baik..." dia melirik Leo Tolstoy dan anggota Detektif Khusus lainnya pergi meninggalkan ruangan, kecuali Selena.
Selena mengambil kursi roda dan membantu Jeanne duduk, kemudian membantu mendorongnya mengikuti Leo dari belakang.
...
Di lorong rumah sakit yang tergolong sunyi. Jeanne bertanya. "Miss Royle, ini rumah sakit Detektif Khusus?" tanyanya, sambil menoleh ke arah Selena.
Selena yang mendorong kursi roda Jeanne, mengangguk. "Benar, jika anggota dari Detektif Khusus terluka, rumah sakit yang—" jawabnya, namun terhenti ketika Leo melirik ke belakang. Selena mencoba tersenyum, kemudian melanjutkan."Panggil aku Selena saja," ujarnya, pelan.
Jeanne mengangguk. "Baik..." jawabnya. "Sepertinya aku dicurigai? ini sedikit masuk akal... Karl mungkin telah ditangkap dan diinterogasi, aku dicurigai karena bisa mengetahui bahwa Karl pelaku keduanya," pikir Jeanne.
Setelah melalui lorong panjang yang biasa saja, layaknya rumah sakit biasa. Jeanne melihat pintu besi di ujung lorong. "Aku akan diinterogasi?" pikirnya, sesaat membuat jantungnya berdegup, perasaan gugup membuatnya sulit berpikir jernih.
Mekanisme kunci yang terlihat rumit di pintu terbuka, Selena membawa masuk Jeanne ke dalam ruangan interogasi yang dipisahkan dengan kaca tebal, Selena melambaikan tangannya dan pergi, lalu pintu mulai tertutup rapat.
Melihat Selena yang meninggalkannya, Jeanne melihat sekeliling ruangan yang kedap dan sedikit pengap, membuat jantungnya berdetak sedikit cepat.
Beberapa detik kemudian pintu di ruangan di sebelah terbuka, Leo memasuki ruangan dan menatap Jeanne, dia berjalan menuju kursi, lalu Eugene masuk dan berdiri di belakang Leo.
"Baik... mari kita mulai," kata Leo yang perlahan duduk, suaranya terdengar tenang namun mengintimidasi, matanya mulai mengamati gerak gerik Jeanne. Kemudian dia melanjutkan. "Aku ingin tahu bagaimana kamu mengetahui bahwa Karl Ryker adalah Pembunuh kedua?" tanya Leo, jari telunjuknya mengetuk meja, pelan dengan ritme yang sama.
Jantung Jeanne berdetak kencang dan semakin kencang, ini adalah pertama kali di hidupnya dia diinterogasi. "Haruskan aku berkata bahwa aku hidup kembali dan mengulang waktu setelah dibunuh oleh Karl?... tidak ini tidak masuk akal untuk dikatakan sebagai jawaban," pikir Jeanne.
"Aku bermimpi..." Jeanne menjawab asal dan tanpa sadar. "Aku bodoh!!" gerutunya dalam hati.
"Mimpi?" Leo mengulangi kata-kata Jeanne.
Jeanne memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikirannya. Dia perlahan mengangguk. Dan berkata."Aku bermimpi buruk. Tentang Karl Ryker. Tentang pembunuh itu," ungkap Jeanne, pelan dan mencoba menyembunyikan ekspresinya.
Kemudian dia menambahkan."Aku punya firasat kuat, seperti déjà vu." katanya, pelan. Saat mengatakan itu kepalanya terasa seperti tersetrum, dia menyentuh kepalanya sedikit meringis, tanpa sadar dari hidungnya mengalir darah. "Aku mimisan?" pikir Jeanne. Melihat Jeanne yang mimisan secara tiba-tiba, Leo Tolstoy memberikan sapu tangan berwarna putih miliknya, dan memberikannya kepada Jeanne lewat lubang kaca yang tebal.
Eugene mengambil kertas dari saku piyama pasiennya dan memberikannya kepada Leo. Lalu Leo menunjukkan surat yang ditulis oleh Jeanne.
"Itu surat yang aku kirim," Jeanne mengingatnya, sambil mengelap darah di hidungnya.
"Apa kamu yang menulis surat ini dan mengirimkannya kepada polisi secara anonim, Nona Weels?" tanya Leo, suaranya dalam dan tenang.
Jeanne mengangguk. "Yah... aku yang menulisnya," Jeanne yang duduk di kursi rodanya, menatap Leo.
"Apa kamu percaya bahwa kekuatan itu nyata?" tanya Leo, tiba-tiba.
"Eh?... M-Mungkin iya..." Jeanne sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, dia menjawab dengan skeptis. Jeanne menundukkan kepalanya, matanya melihat darah kental di sapu tangan berwarna putih.
Mata cokelat Leo melirik Jeanne dalam seolah menusuk pikirannya dan menyelidik. Kemudian dia berkata. "Kamu bukan Night Order?" tanya Leo kepada Jeanne, tanpa ragu.
"Night Order?" ulang Jeanne dalam pikirannya. "Apa itu Night Order?" tanya Jeanne dalam hatinya. Jeanne menggelengkan kepalanya."Aku tidak tahu itu," jawab Jeanne, jujur dan terus terang.
Leo menoleh ke arah Eugene, lalu dia menjentikkan jarinya dan sesaat ruangan Jeanne menjadi sunyi seolah bisa mendengar detak jantungnya sendiri, namun Jeanne dapat melihat percakapan Leo dan Eugene dari pergerakan mulut mereka.
"Kekuatan?" tebak Jeanne, bingung. Sementara tatapannya terpaku, melirik percakapan Leo dan Eugene. "Kekuatan yang bisa membuat indra pendengaran tumpul?" gumam Jeanne. Jari-jarinya masih sedikit bergetar, gugup.
Beberapa saat berlalu, Jeanne kembali bisa merasakan dan mendengar suara Leo.
"Baiklah..." kata Leo sambil tersenyum. "Sekali lagi aku memperkenalkan diri, aku Leo Tolstoy sekaligus direktur Detektif Khusus di kota Gheena, meminta maaf karena melibatkan warga sipil," tambahnya dengan nada profesional, lalu melanjutkan. "Mari kita buat kesepakatan dan kontrak. Kamu bisa merahasiakan kejadian semalam serta kekuatan Detektif Khusus yang kamu lihat," Leo tersenyum. Matanya melirik Jeanne dengan dalam.
"Baik... aku mengerti," jawab Jeanne, pelan. Mata Jeanne melirik Eugene yang tersenyum kepadanya sambil melambaikan tangan dan berjalan keluar dari ruangan.
Leo mengangguk. "Kamu akan diberikan kompensasi setelah ini.." lalu dia melanjutkan. "Eugene merekomendasikanmu untuk masuk ke dalam Detektif Khusus." kata Leo, sebelum Jeanne menjawab Leo menambahkan."Kamu bisa menolaknya," sahutnya.
"Apa?" Jeanne terkejut. "Pria Aneh!!" Jeanne mencela Eugene dalam hatinya. Namun Jeanne hanya terdiam.
Melihat itu Leo tersenyum. "Kamu bilang, kamu bermimpi buruk, dan mimpi itu menjadi kenyataan, mungkin itu kekuatanmu... dan kamu bisa menggunakannya untuk menyelamatkan orang-orang," Leo perlahan bangun dari kursinya, dan melirik Jeanne sesaat.
"Aku akan memikirkannya," jawab Jeanne pelan, Leo berjalan menuju pintu keluar dan meninggalkan ruangan. Lalu pintu terbuka Selena masuk dan membantu mendorong Jeanne keluar dari ruangan.
...
"Bagaimana?" tanya Isabella yang menunggu di depan pintu. Mata kuning keemasannya melirik Jeanne dengan serius.
Jeanne mengangkat kepalanya, menatap Isabella, bingung. "M-Maksudnya?" bertanya keheranan. Isabella menghela napas. Dan berkata. "Apa kamu menerimanya?" tanya Isabella sekali lagi. nada suaranya masih sama.
"Itu, aku akan memikirkannya." jawab Jeanne pelan, jari-jarinya yang diperban menggenggam pegangan kursi roda.
Isabella melirik Jeanne. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia memalingkan wajah, kemudian dia pergi begitu saja.
Selena tersenyum, dan berkata. "Miss Isabella sebenarnya baik..." Selena mencairkan suasana yang seketika menjadi hening. Dan perlahan mendorong kursi roda Jeanne, menuju ruang rawatnya.
"Miss Selena... apa luka ini akan lama?" tanya Jeanne melirik tangan dan kakinya yang di gips.
Selena menjawab."Tidak... lukanya akan sembuh dalam tiga hari saja, aku menggunakan kekuatan dengan cara mempercepat regenerasi jaringan," jawabnya pelan sambil tersenyum.
"Mempercepat jaringan?" gumam Jeanne dalam benaknya, namun Jeanne memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh.
...
Setelah kembali ke ruangannya, Jeanne melihat bahwa kaca yang telah pecah sudah diperbaiki. "Mereka langsung memperbaikinya." puji Jeanne.
Setelah membantu Jeanne kembali ke ranjangnya, Selena berkata. "Tuan Tolstoy sebelumnya sudah memberitahuku bahwa kami sudah menghubungi kerabat terdekatmu."
"Kerabat?... Aku tidak punya," pikir Jeanne sekaligus menjawab dalam hatinya, dia terpaksa mengangguk, heran. "Tunggu? mungkin, mereka menghubungi Anna?" setelah memikirkan itu, pintu ruangan terbuka.
"Permisi..." suara yang tidak asing bagi Jeanne terdengar. Jeanne menoleh dan melihat Gadis berambut pirang cokelat tergerai lurus, matanya merah ruby, dia mengenakan gaun putih sederhana dan topi bonnet berwarna putih yang selaras.
"Anna..." panggil Jeanne pelan, hatinya merasa lega. Anna menoleh dan berlari kemudian memeluk Jeanne.
"Syukurlah..." Anna menangis sambil memeluk Jeanne.
Selena tersenyum dan kemudian keluar dari ruangan.
"Aku baik-baik saja... syukurlah," dia memeluk Anna, tanpa sadar air matanya mengalir. "Syukurlah..." ulangnya sekali lagi. Jeanne mengulangnya dalam hati.
"Aku... aku langsung menuju kesini saat seseorang meneleponku lewat ponselmu dan menjelaskan situasinya." suaranya pelan. Dia menghapus air matanya dan air mata Jeanne, menatap Jeanne layaknya seorang ibu yang melihat putrinya terluka.
"Terima kasih, Anna.." katanya Jeanne, lirih.












